latest Post

RESENSI FILM "99 CAHAYA DI LANGIT EROPA"

 


Judul                                  : 99 Cahaya di Langit Eropa

Genre                                : Drama

Tanggal Rilis                     : 05 Desember 2013

Durasi                               : 96 min.

Produksi                           : Maxima Pictures

Sutradara                         : Guntur Soeharjanto

Produser                           : Ody M Hidayat

Penulis Naskah                : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra

Pemain                              :

  • Acha Septriasa sebagai Hanum Salsabiela Rais, seorang jurnalis Indonesia yang selama tiga tahun menemani suaminya.
  • Abimana Aryasatya sebagai Rangga Almahendra, suami Hanum yang menjalani studi doktorat di Universitas di Vienna, Austria.
  • Raline Shah sebagai Fatma Pasha, wanita muslim berdarah Turki.
  • Dewi Sandra sebagai Marion Latimer, seorang mualaf yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World.
  • Alex Abbad sebagai Khan.
  • Nino Fernandez sebagai Stefan.
  • Marissa Nasution sebagai Maarja.
  • Geccha Tavvara sebagai Ayse, puteri dari Fatma.
  • Fatin Shidqia sebagai dirinya sendiri.
  • Dian Pelangi sebagai dirinya sendiri.
  • Hanum Salsabiela Rais sebagai dirinya sendiri.

  

Film yang menceritakan pertualangan sang penulis dalam mencari jejak-jejak sejarah yang bercahaya ini dikemas apik dengan perpaduan “bumbu” cinta, cahaya agama dan juga pertemuan penuh hikmah dengan seorang wanita muslim bernama Fatma Pasha. Film ini juga terbang melesat mengepakkan sayap kesuksesannya selain guratan-guratan tinta yang ditulis di dalam novel dengan judul yang sama. Film yang sarat dengan syiar cahaya agama Islam ini mengundang decak kagum dari berbagai kalangan mulai dari pengangguran hingga presiden. Film ini menghujani motivasi hidup yang sangat bernilai dan mulai langka yaitu kejernihan dan sebuah arti ketulusan. Agama seringkali dijadikan sebuah paradoks yang menyakitkan bagi sebagian lain. Film yang memberikan suguhan unik dengan kemampuan menarik benang merah dari tumpukan kesemrawutan konflik SARA. Film inilah yang menginspirasi kedamaian di atas banyak perbedaan seperti ideologi, keyakinan dan idealisme.

Alur cerita campuran dalam film ini dimulai dari kisah keseharian tokoh bernama Hanum Salsabiela Rais yang singkat cerita bertemu dengan Fatma Pasha, seorang muslimah yang unik dengan kesantunan dan kecerdasannya menyikapi segala bentuk mispersepsi orang-orang Eropa terhadap seorang wanita yang mengenakan jilbab. Ilustrasi keindahan perjuangan seorang wanita sekaligus ibu dari Ayse Pasha dengan kerarifan dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Tidak mudah bagi Fatma untuk membesarkan hati putri semata wayangnya itu untuk tetap bisa ceria memasuki sekolah dasar di Austria. Ayse seringkali menangis setiap pulang sekolah karena Leon (temannya di sekolah) selalu mengejeknya sebagai seorang teroris. Fatma yang selalu tampak tenang berusaha setegar karang untuk melindungi agama dan keluarganya. Latar film ini digarap dengan sangat apik oleh seorang sutradara kawakan bertangan dingin Guntur Soehardjanto ini memang menjadi angin segar yang memiliki cita rasa seni tinggi terhadap berbagai angle pengambilan gambar.

Destinasi cerita film ini adalah selain untuk menumbuhkan kebanggaan dan kesabaran menyikapi segala bentuk tantangan, tapi juga untuk mewarnakan keindahan cahaya Islam di langit Eropa. Pesan dan kesan inilah yang secara implisit ditumbuhkan tokoh inspiratif Fatma Pasha yang menginspirasi tidak hanya bagi Hanum tapi juga kita sebagai penonton. Pemaparan cerita melalui penemuan mosaik-mosaik perjalanan sejarah lebih rinci diceritakan di Paris. Sedangkan di Austria sendiri porsi tempat-tempat bersejarah lebih sedikit. Meskipun hal ini terjadi karena Hanum gagal untuk menjelajah bersama Fatma dari hamparan Eropa ujung barat hingga ke timurnya. Di Paris, Hanum menemani sang suami Rangga Almahendra ke Paris yang tengah menyelesaikan kepentingan studinya. Ya, Paris, di sinilah Hanum bersama Marion Latimer mulai mengarungi setiap tempat bersejarah penuh cahaya. Menemukan tulisan kaligrafi elok dibalik kerudung Bunda Maria merupakan salah satu objek sejarah yang ditemukan mereka. Dan masih banyak objek lain yang dideskipsikan dalam film ini.

Potongan-potongan situs sejarah yang ditampilkan mengundang decak kagum dari berbagai kalangan. Hal inilah yang menambah deretan kelebihan dari film ini. sehingga akan sangat sayang jika tidak ditonton. Penceritaan setiap bagian sejarah yang mengundang ketakjuban dan penuh misteri pun berhasil memancing nalar para penonton untuk ikut menerka pertanyaan-pertanyaan sang sejarawan, Marion Latimer. Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga La Les Invalides yang berada dalam satu garis lurus telunjuk apabila diangkat akan berakhir ke pusat seluruh gravitasi semesta yaitu Ka’bah.

Meskipun visualisasi tempat-tempat sejarah ini masih terasa kurang rinci di setiap detail. Akan tetapi kekurangan ini ditutup dengan adegan-adegan romantis, lucu dan menyegarkan dalam sekuel cerita kehidupan. Katedral Mezquita yang sekarang beralih fungsi seiring keruntuhan Islam di Spanyol, Istana Al Hambra menjadi saksi bisu berkumandangnya kembali suara adzan yang dikumandangkan oleh seorang agen muslim. Simfoni alam dan nuansa kedamaian di kala matahari semakin merapat ke peraduannya menjadi alunan pengiring yang menakjubkan. Setiap detail dari film ini semakin menyentuh dan penuh dengan kejutan hingga klimaks film ini usai. 

Pesan dakwah yang dapat diambil  dari film ini adalah tentang sabar dalam menghadapi semua permasalahan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar“. [Ali Imran/3 : 146]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan“. [An-Nahl/16 : 96]

About Esa Yayang

Esa Yayang
Recommended Posts × +

0 comments: